Permohonan Hidangan dari Langit
اللَّهُمَّ. رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا، وَآخِرِنَا، وَآيَةً مِنْكَ، وَارْزُقْنَا، وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Audio gagal dimuat. Coba lagi nanti.
Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.
Bentuk doa ini memadukan sebutan “Allāhumma Rabbanā” (اللَّهُمَّ رَبَّنَا) dengan kata kerja “anzil” (أَنْزِلْ) dan “urzuqnā” (ارْزُقْنَا). Doa ini menunjukkan adab Nabi Isa yang sangat luhur ketika memohon tanda kekuasaan Allah dan rezeki.
Tafsir Syekh Abdurrahman as-Sa'di
Ketika Isa عليه الصلاة والسلام mendengar permintaan itu dan memahami maksud mereka, ia memenuhi permintaan mereka tersebut. Ia berkata, “Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit agar hari turunnya menjadi hari raya bagi kami, bagi generasi kami yang pertama dan yang terakhir, serta menjadi tanda dari-Mu.” Maksudnya, waktu turunnya hidangan itu menjadi hari raya dan perayaan yang mengingatkan mereka kepada tanda yang agung ini, sehingga tanda itu terpelihara dan tidak dilupakan seiring berlalunya waktu dan berulangnya tahun-tahun.
Demikian pula Allah Ta‘ala menjadikan hari-hari raya dan manasik kaum muslimin sebagai pengingat akan tanda-tanda-Nya, pengingat tentang sunnah para rasul dan jalan mereka yang lurus, serta keutamaan dan kebaikan-Nya kepada mereka. “Berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.” Maksudnya, jadikanlah hidangan itu sebagai rezeki bagi kami. Isa عليه الصلاة والسلام memohon agar hidangan itu diturunkan demi dua kemaslahatan: kemaslahatan agama, yaitu agar menjadi tanda yang tetap lestari, dan kemaslahatan dunia, yaitu agar menjadi rezeki.
Tafsir Imam Ibnu Katsir
“Isa putra Maryam berkata, ‘Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit agar menjadi hari raya bagi kami, bagi generasi kami yang pertama dan yang terakhir.’” As-Suddi berkata, “Maksudnya, kita menjadikan hari ketika hidangan itu diturunkan sebagai hari raya yang kita agungkan, kita dan orang-orang setelah kita.” Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Maksudnya, hari untuk kita melaksanakan salat.” Qatadah berkata, “Mereka menginginkan agar hidangan itu menjadi milik keturunan mereka setelah mereka.”
Diriwayatkan dari Salman Al-Farisi, “Sebagai pelajaran bagi kami dan orang-orang setelah kami.” Ada pula yang mengatakan, “Hidangan itu mencukupi generasi kami yang pertama dan yang terakhir.” “Dan menjadi tanda dari-Mu,” yakni bukti yang Engkau tegakkan tentang kekuasaan-Mu atas segala sesuatu dan tentang dikabulkannya doaku, agar mereka membenarkan apa yang kusampaikan kepada mereka dari-Mu. “Dan berilah kami rezeki,” yakni rezeki yang baik dari sisi-Mu, tanpa beban dan tanpa kelelahan. “Dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.”
Tafsir al-Baghawi
“Isa putra Maryam berkata,” pada saat itu, “Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit.” Dikatakan bahwa ia mandi, mengenakan pakaian dari wol kasar, lalu salat dua rakaat, menundukkan kepala, menahan pandangan, dan menangis. Kemudian ia berkata, “Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit agar menjadi hari raya bagi kami, bagi generasi kami yang pertama dan yang terakhir.” Maksudnya, hidangan itu menjadi karunia dari Allah kepada kami, sekaligus hujah dan bukti.
Kata ‘id (hari raya) berarti hari kegembiraan. Hari itu disebut demikian karena kembali dari kesedihan menuju kegembiraan. Kata itu juga merupakan sebutan bagi sesuatu yang biasa dilakukan dan kembali kepada seseorang. Hari Idulfitri dan Iduladha disebut hari raya karena keduanya kembali setiap tahun.
As-Suddi berkata, “Maksudnya, kita menjadikan hari ketika hidangan itu diturunkan sebagai hari raya bagi generasi kami yang pertama dan yang terakhir, yakni kita dan orang-orang setelah kita mengagungkannya.” Sufyan berkata, “Kita melaksanakan salat pada hari itu.” Adapun “bagi generasi kami yang pertama,” maksudnya orang-orang pada zaman kami; dan “yang terakhir,” maksudnya orang-orang yang datang sesudah kami. Ibnu Abbas berkata, “Orang-orang terakhir akan memakannya sebagaimana orang-orang pertama telah memakannya.”
“Dan menjadi tanda dari-Mu,” yakni bukti dan hujah. “Dan berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.”
Dalam Sunan At-Tirmidzi (no. 3061) diriwayatkan sebuah riwayat yang menjelaskan hidangan yang turun dari langit serta ujian yang berkaitan dengan menyembunyikannya dari orang lain.