Memohon Petunjuk dan Mengingat Allah
عَسَىٰ، أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا.
عَسَىٰ أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا
Audio gagal dimuat. Coba lagi nanti.
kecuali (dengan mengatakan), "Insyā Allah."[492] Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini."
Bentuknya adalah harapan dan permohonan, “‘asā an yahdiyanī” (عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ). Ayat ini mengajarkan kaum Muslimin untuk bertawakal kepada Allah ketika merencanakan masa depan dan mengucapkan “Insya Allah”.
Tafsir Syekh Abdurrahman as-Sa'di
Tafsir ayat 23 dan 24: Larangan ini, sebagaimana larangan-larangan lainnya, meskipun memiliki sebab khusus dan ditujukan kepada Rasulullah ﷺ, berlaku umum bagi semua orang yang dibebani syariat. Allah melarang seorang hamba mengatakan tentang perkara yang akan datang, “Aku pasti akan melakukan itu,” tanpa menyertakannya dengan kehendak Allah. Sebab, hal itu mengandung perkara yang patut dihindari: berbicara tentang perkara gaib di masa depan yang tidak diketahui apakah ia akan melakukannya atau tidak, dan apakah perkara itu akan terjadi atau tidak.
Hal itu juga menyandarkan terwujudnya suatu perbuatan secara mandiri kepada kehendak hamba, padahal hal tersebut terlarang, karena seluruh kehendak adalah milik Allah: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 29).
Menyebut kehendak Allah juga membuat suatu urusan menjadi mudah dan lancar, mendatangkan keberkahan, serta menjadi bentuk permohonan pertolongan seorang hamba kepada Tuhannya. Karena manusia pasti dapat lupa dan lalai sehingga tidak menyebut kehendak Allah, Allah memerintahkannya untuk mengucapkan pengecualian itu setelah ia ingat, agar tujuan tercapai dan perkara yang patut dihindari dapat diatasi.
Dari keumuman firman-Nya, “Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa,” dapat dipahami perintah untuk mengingat Allah ketika lupa, sebab hal itu menghilangkan kelupaan dan mengingatkan hamba akan sesuatu yang luput darinya. Demikian pula, orang yang lalai dan lupa mengingat Allah diperintahkan untuk mengingat Tuhannya dan tidak termasuk orang-orang yang lalai.
Karena seorang hamba membutuhkan Allah agar dituntun kepada kebenaran dan terhindar dari kesalahan dalam perkataan maupun perbuatannya, Allah memerintahkannya untuk berkata, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kepada kebenaran daripada ini.” Allah memerintahkannya untuk berdoa kepada-Nya, berharap kepada-Nya, dan yakin bahwa Dia akan membimbingnya kepada jalan yang paling dekat untuk mencapai petunjuk yang benar.
Layak bagi seorang hamba yang berada dalam keadaan demikian, lalu mengerahkan segenap usaha dan kemampuannya untuk mencari petunjuk dan kebenaran, untuk memperoleh taufik, menerima pertolongan dari Tuhannya, dan diberi ketepatan dalam seluruh urusannya.
Tafsir Imam Ibnu Katsir
Firman-Nya, “Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa,” ditafsirkan oleh sebagian ulama dengan: apabila engkau lupa mengucapkan pengecualian [dengan mengatakan “Insya Allah”], maka ucapkanlah ketika engkau ingat. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Al-‘Aliyah dan Al-Hasan Al-Bashri.
Husyaim meriwayatkan dari Al-A‘masy, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas mengenai seseorang yang bersumpah. Ibnu ‘Abbas berkata bahwa ia boleh mengucapkan pengecualian meskipun sampai setahun kemudian. Ia berdalil dengan firman-Nya, “Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa.” Al-A‘masy ditanya, “Apakah engkau mendengarnya dari Mujahid?”
Ia menjawab, “Laits bin Abi Sulaim menyampaikan hal itu kepadaku; ia melihat kain kiswaku ini.” Riwayat ini juga disampaikan oleh At-Tabarani melalui Abu Mu‘awiyah, dari Al-A‘masy.
Maksud perkataan Ibnu ‘Abbas, “Ia boleh mengucapkan pengecualian sekalipun setelah setahun,” ialah apabila seseorang lupa mengucapkan “Insya Allah” ketika bersumpah atau berbicara, kemudian ia baru ingat meskipun setelah setahun, disunahkan baginya untuk mengucapkannya agar ia telah mengamalkan sunah mengucapkan pengecualian, sekalipun hal itu dilakukan setelah sumpahnya dilanggar. Ibnu Jarir رحمه الله menegaskan hal tersebut. Maksudnya bukan bahwa ucapan itu menghapus pelanggaran sumpah dan menggugurkan kafarat. Pendapat Ibnu Jarir inilah yang benar dan paling sesuai untuk memahami perkataan Ibnu ‘Abbas. Allah lebih mengetahui.
‘Ikrimah berkata bahwa makna “Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa” adalah: apabila engkau marah. Ini merupakan penafsiran berdasarkan sesuatu yang berkaitan dengannya.
At-Tabarani meriwayatkan: Ahmad bin Yahya Al-Halwani menyampaikan kepada kami, Sa‘id bin Sulaiman menyampaikan kepada kami, dari ‘Abbad bin Al-‘Awwam, dari Sufyan bin Husain, dari Ya‘la bin Muslim, dari Jabir bin Zaid, dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman-Nya, “Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok,’ kecuali (dengan mengatakan), ‘Insya Allah,’ dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa,” yakni lupa mengatakan “Insya Allah”.
At-Tabarani juga meriwayatkan: Muhammad bin Al-Harits Al-Jubaili menyampaikan kepada kami, Safwan bin Salih menyampaikan kepada kami, Al-Walid bin Muslim menyampaikan kepada kami, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Husain, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas dengan penjelasan yang sama.
At-Tabarani juga meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman-Nya, “Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa,” bahwa maksudnya adalah pengecualian; maka ucapkanlah pengecualian itu apabila engkau ingat. Ia berkata bahwa ayat tersebut khusus bagi Rasulullah ﷺ, dan tidak seorang pun dari kita boleh mengucapkan pengecualian, kecuali dalam hal menyambung sumpahnya. Kemudian At-Tabarani berkata, “Riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Al-Walid dari ‘Abdul ‘Aziz bin Al-Husain.”
Ada kemungkinan makna lain dari ayat ini: Allah عز وجل membimbing orang yang lupa sesuatu dalam ucapannya agar mengingat Allah Ta‘ala. Sebab, kelupaan bersumber dari setan, sebagaimana dikatakan oleh pelayan Musa, “Dan tidak ada yang membuatku lupa mengingatnya selain setan.” (QS. Al-Kahf: 63).
Mengingat Allah Ta‘ala mengusir setan. Apabila setan pergi, hilang pula kelupaan. Maka, mengingat Allah menjadi sebab seseorang kembali ingat. Karena itu, Allah berfirman, “Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa.”
Firman-Nya, “Dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kepada kebenaran daripada ini,’” maksudnya: apabila engkau ditanya tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui, mohonlah kepada Allah mengenainya dan arahkanlah dirimu kepada-Nya agar Dia memberi taufik kepadamu untuk mendapatkan jawaban yang benar dan petunjuk yang lurus. Ada pula penafsiran lain tentang ayat ini. Allah lebih mengetahui.
Tafsir al-Baghawi
“Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa.” Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan Al-Hasan berkata bahwa maknanya ialah: apabila engkau lupa mengucapkan pengecualian [“Insya Allah”], lalu kemudian ingat, ucapkanlah pengecualian itu. Ibnu ‘Abbas membolehkan mengucapkan pengecualian yang terpisah dari perkataan semula, sekalipun jedanya sampai setahun. Al-Hasan membolehkannya selama orang itu masih berada di majelis yang sama.
Sebagian ulama membolehkannya apabila jarak waktunya dekat; jika sudah lama, maka tidak sah. Sekelompok ulama mensyaratkan agar pengecualian itu tersambung dengan perkataannya.
‘Ikrimah berkata bahwa makna ayat ini adalah: ingatlah Tuhanmu ketika engkau marah. Wahb berkata, “Tertulis di dalam Injil: ‘Wahai anak Adam, ingatlah Aku ketika engkau marah, niscaya Aku mengingatmu ketika Aku murka.’” Adh-Dhahhak dan As-Suddi berkata bahwa ayat ini berkaitan dengan salat.
‘Abdul Wahid Al-Malihi mengabarkan kepada kami: Al-Hasan bin Ahmad Al-Makhladi memberitakan kepada kami, Abu Al-‘Abbas As-Sarraj memberitakan kepada kami, Qutaibah memberitakan kepada kami, Abu ‘Awanah memberitakan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas, ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa lupa melaksanakan salat, hendaklah ia mengerjakannya ketika ia ingat.”
“Dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kepada kebenaran daripada ini,’” yakni, semoga Dia meneguhkan aku di atas jalan yang lebih dekat kepada-Nya dan lebih lurus. Ada yang berkata bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengingat-Nya apabila lupa akan sesuatu, dan memohon kepada-Nya agar Dia membimbingnya kepada sesuatu yang lebih baik daripada sekadar mengingat hal yang telah ia lupakan.
Dikatakan pula bahwa ketika orang-orang bertanya kepadanya tentang kisah para penghuni gua dengan maksud membantah, Allah عز وجل memerintahkannya untuk memberi tahu mereka bahwa Allah akan memberinya bukti-bukti kebenaran kenabiannya yang lebih jelas bagi mereka daripada kisah para penghuni gua. Hal itu benar-benar terjadi: Allah memberinya pengetahuan tentang perkara gaib yang disampaikan kepada para rasul, yang menjadi bukti lebih jelas dan lebih dekat kepada kebenaran daripada kisah para penghuni gua.
Sebagian ulama berkata bahwa ini adalah sesuatu yang diperintahkan untuk diucapkan bersama perkataan “Insya Allah” apabila seseorang ingat setelah lupa mengucapkan pengecualian. Jika seseorang lupa mengatakan “Insya Allah”, maka bentuk tobatnya dari hal itu adalah mengucapkan, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kepada kebenaran daripada ini.” Pengecualian boleh diucapkan.
Dalam Shahih Al-Bukhari (no. 3424) diriwayatkan kisah Nabi Sulaiman, yang lupa mengucapkan “Insya Allah”. Kisah ini menegaskan pentingnya senantiasa bertawakal kepada Sang Pencipta.