Doa 30 Ilmu dan Kemudahan 7 menit membaca

Memohon Kelapangan dan Kemudahan

Nabi Musa 20:25–28
Teks Arab

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي، وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Teks Arab mengikuti Al-Qur'an dan dilengkapi harakat. طه 20:25–28
Dengarkan doa 0:00 0:00
Suara
Transliterasi Rabbi syrah li shadri, wa yassir li amri, wahlul 'uqdatan min lisani, yafqahu qauli.
Terjemahan makna
Ministry of Religious Affairs (Kemenag)ID

Dia (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku,[511] dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku,

Makna dan keistimewaan

Bentuk doa: empat kata kerja perintah yang berurutan, yaitu “isyrah” (اشْرَحْ), “yassir” (يَسِّرْ), “uhlul” (احْلُلْ), dan “yafqahu” (يَفْقَهُوا). Ini adalah doa Al-Qur’an yang utama untuk memohon kefasihan berbicara, ketenteraman jiwa, dan kemudahan dalam urusan-urusan yang sulit.

Tafsir dan pelajaran

Tafsir Syekh Abdurrahman as-Sa'di

(Dan mudahkanlah untukku urusanku), yakni mudahkanlah bagiku setiap urusan yang kutempuh dan setiap jalan yang kutuju di jalan-Mu. Ringankanlah bagiku berbagai kesulitan yang menghadang. Termasuk kemudahan dalam urusan ialah Allah memudahkan orang yang berdoa agar menempuh setiap urusan melalui pintu-pintunya, berbicara kepada setiap orang dengan cara yang sesuai dengannya, dan mengajaknya melalui jalan terdekat yang mengantarkan kepada diterimanya perkataan.

Tafsir ayat 27–28: (Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku). Lidah Musa terasa berat sehingga perkataannya hampir tidak dapat dipahami, sebagaimana dikatakan para ahli tafsir. Allah juga menyebutkan bahwa Musa berkata, “Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku” (Al-Qasas: 34). Maka Musa memohon kepada Allah agar melepaskan kekakuan pada lidahnya, supaya mereka memahami apa yang dikatakannya.

Dengan demikian, tujuan berbicara, berdialog, dan menjelaskan makna dapat tercapai dengan sempurna.

Tafsir ayat 24–25: Setelah Allah mewahyukan kepada Musa, mengangkatnya sebagai nabi, dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda yang nyata, Dia mengutusnya kepada Fir‘aun, raja Mesir. Allah berfirman, “Pergilah kepada Fir‘aun. Sungguh, dia telah melampaui batas” (Taha: 24), yakni memberontak dan melampaui batas dalam kekufuran, kerusakan, kesombongan di bumi, serta penindasan terhadap orang-orang lemah, sampai-sampai dia mengaku sebagai tuhan dan sesembahan—semoga Allah memburukkannya. Pelampauan batasnya itulah yang menyebabkan kebinasaannya.

Namun, karena rahmat, hikmah, dan keadilan Allah, Dia tidak menghukum seseorang sebelum hujah ditegakkan melalui para rasul.

Saat itu Musa mengetahui bahwa ia memikul tugas yang sangat berat: ia diutus kepada seorang penguasa zalim yang keras kepala, yang tidak memiliki penantang dari kalangan manusia di Mesir, sedangkan Musa seorang diri. Ia juga pernah melakukan pembunuhan, sehingga ia khawatir terhadap mereka. Namun, Musa menaati perintah Tuhannya dan menerimanya dengan hati lapang. Ia memohon pertolongan dan kemudahan sebab-sebab yang diperlukan untuk menyampaikan dakwah.

Maka ia berkata, “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku,” yakni luaskanlah dan legakanlah dadaku agar aku sanggup menanggung gangguan berupa perkataan maupun perbuatan, sehingga hatiku tidak terganggu dan dadaku tidak menjadi sempit. Sebab, apabila dada sempit, seseorang tidak akan mampu membimbing manusia dan menyeru mereka. Allah berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad ﷺ, “Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu” (Ali ‘Imran: 159).

Bisa jadi manusia menerima kebenaran apabila disampaikan dengan kelembutan, kelapangan dada, dan sikap yang lapang terhadap mereka.

Tafsir Imam Ibnu Katsir

(Agar mereka mengerti perkataanku.) Hal itu karena Musa mengalami gagap ketika, sebagaimana akan dijelaskan nanti, kurma dan bara api dihadapkan kepadanya. Ia mengambil bara api lalu meletakkannya di lidahnya. Ia tidak memohon agar gangguan itu hilang sepenuhnya, tetapi agar ketidakfasihannya sirna sehingga mereka dapat memahami maksud perkataannya sebatas yang diperlukan.

Seandainya ia memohon agar semuanya hilang, tentu gangguan itu akan lenyap. Akan tetapi, para nabi hanya memohon sesuai dengan kebutuhan; karena itulah masih tersisa sedikit kekakuan pada lidahnya. Allah mengabarkan bahwa Fir‘aun berkata, “Atau bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan perkataannya?” (Az-Zukhruf: 52), yakni tidak fasih dalam berbicara.

Al-Hasan al-Bashri berkata mengenai firman-Nya, “Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku”: “Lepaskanlah satu kekakuan. Seandainya ia memohon lebih dari itu, niscaya akan diberikan kepadanya.” Ibnu ‘Abbas berkata: “Musa mengadukan kepada Tuhannya kekhawatirannya terhadap keluarga Fir‘aun sehubungan dengan orang yang terbunuh, juga kekakuan lidahnya. Pada lidahnya terdapat kekakuan yang menghalanginya dari banyak berbicara.

Ia memohon kepada Tuhannya agar membantunya melalui saudaranya, Harun, supaya menjadi pendukungnya dan berbicara atas namanya mengenai banyak hal yang tidak dapat diucapkan dengan fasih oleh lidahnya. Allah pun mengabulkan permohonannya dan melepaskan satu kekakuan dari lidahnya.”

Ibnu Abi Hatim berkata: Diriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Utsman, dari Baqiyyah, dari Arṭā’ bin al-Mundzir, ia berkata: Salah seorang sahabat Muhammad bin Ka‘b menceritakan kepadaku bahwa seorang kerabatnya datang kepada al-Qurazhi dan berkata, “Tidak ada yang kurang padamu, kecuali bahwa engkau keliru dalam berbicara dan tidak mengucapkan bacaanmu dengan tepat.” Al-Qurazhi berkata, “Wahai keponakanku, bukankah engkau memahami perkataanku ketika aku berbicara kepadamu?” Ia menjawab, “Ya.”

Al-Qurazhi berkata, “Musa hanya memohon kepada Tuhannya agar melepaskan kekakuan dari lidahnya supaya Bani Israil memahami perkataannya, tidak lebih dari itu.” Demikian bunyi riwayat tersebut. (Az-Zukhruf: 52).

(Musa berkata, “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku.”) Ini adalah permohonan Musa, semoga keselamatan tercurah kepadanya, kepada Allah عز وجل agar melapangkan dadanya untuk menjalankan tugas yang dengannya ia diutus. Allah telah memerintahkannya dengan perkara yang besar dan tugas yang berat: ia diutus kepada penguasa terbesar di muka bumi pada masa itu, yang paling kuat, paling keras kekufurannya, paling banyak tentaranya, paling luas kekuasaannya, paling melampaui batas, dan paling besar pembangkangannya.

Fir‘aun bahkan sampai mengaku tidak mengenal Allah dan tidak mengetahui ada sesembahan bagi rakyatnya selain dirinya.

Sebelumnya Musa pernah tinggal di rumah Fir‘aun sejak masih bayi, berada dalam asuhannya dan di atas pembaringannya. Kemudian Musa membunuh seorang dari mereka, lalu takut mereka akan membunuhnya. Karena itu, ia melarikan diri dari mereka selama bertahun-tahun. Setelah itu, Tuhannya عز وجل mengutusnya kembali kepada mereka sebagai pemberi peringatan, menyeru mereka agar menyembah Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya.

Karena itu Musa berkata, “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku.” Maksudnya: Jika Engkau bukan penolong, pembela, dan pendukungku, aku tidak akan sanggup menghadapi tugas itu.

Tafsir al-Baghawi

(Musa berkata), “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku,” yakni luaskanlah dadaku untuk menerima kebenaran. Ibnu ‘Abbas berkata, “Maksudnya, agar aku tidak takut kepada siapa pun selain Engkau.” Musa sangat takut kepada Fir‘aun karena kekuatannya yang besar dan banyaknya tentaranya. Dadanya terasa sempit menghadapi tugas untuk melawan Fir‘aun seorang diri.

Maka Musa memohon kepada Allah agar melapangkan hatinya untuk menerima kebenaran, sehingga ia mengetahui bahwa tidak seorang pun dapat mencelakakannya kecuali dengan izin Allah. Apabila ia mengetahui hal itu, ia tidak akan takut kepada Fir‘aun, kekuatannya yang besar, ataupun banyaknya tentaranya.

“Dan mudahkanlah untukku urusanku,” yakni mudahkanlah bagiku tugas menyampaikan risalah kepada Fir‘aun yang telah Engkau perintahkan kepadaku.

“Agar mereka mengerti perkataanku,” maksudnya, lepaskanlah kekakuan pada lidahku agar mereka memahami perkataanku.

“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku.” Pada suatu hari, ketika Musa masih kecil dan berada dalam asuhan Fir‘aun, Musa menampar Fir‘aun dan menarik janggutnya. Fir‘aun berkata kepada istrinya, Asiyah, “Anak ini adalah musuhku,” lalu ia hendak membunuh Musa. Asiyah berkata, “Dia masih anak kecil; dia belum berakal dan belum dapat membedakan.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setelah Musa disapih, ibunya mengembalikannya. Musa pun tumbuh besar dalam asuhan Fir‘aun dan istrinya, Asiyah, yang membesarkannya dan menjadikannya anak angkat.

Suatu hari, ketika Musa bermain di hadapan Fir‘aun sambil memegang tongkat kecil, ia mengangkat tongkat itu lalu memukulkannya ke kepala Fir‘aun. Fir‘aun marah dan menganggap pukulan itu sebagai pertanda buruk, hingga ia berniat membunuh Musa. Asiyah berkata, “Wahai Raja, dia masih kecil dan belum berakal. Jika engkau mau, ujilah dia.”

Asiyah lalu membawa dua wadah: satu berisi bara api dan yang lain berisi permata. Keduanya diletakkan di hadapan Musa. Musa hendak mengambil permata, tetapi Jibril mengarahkan tangannya ke bara api. Musa mengambil bara itu dan meletakkannya di mulutnya. Lidahnya pun terbakar dan menjadi kaku.

Hadis pendukung

Dalam Tafsir Ibnu Katsir ditekankan anjuran membaca doa ini sebelum menyampaikan pidato penting, mengajar pelajaran, dan menyampaikan khutbah.

Label
  • #doa Nabi Musa
  • #kelapangan dada
  • #kemudahan urusan
  • #kelancaran berbicara
  • #dakwah
  • #Surah Taha

Cari doa

Cari berdasarkan topik, surah, terjemahan, tafsir, atau teks Arab. Anda dapat mencari dalam bahasa Arab—harakat tidak wajib.

↑ ↓ navigate · ↵ open · esc close Hasil →