Doa 56 Persaudaraan dan Akhir yang Baik 10 menit membaca

Memohon Ampunan dan Kebersihan Hati

Kaum Muslimin yang datang setelah para Sahabat 59:10
Teks Arab

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا، وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا. رَبَّنَا، إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Teks Arab mengikuti Al-Qur'an dan dilengkapi harakat. الحشر 59:10
Dengarkan doa 0:00 0:00
Suara
Transliterasi Rabbanā-ghfir lanā wa li-ikhwāninā alladzīna sabaqūnā bil-īmāni wa lā taj‘al fī qulūbinā ghillan lilladzīna āmanū, rabbanā innaka ra’ūfur raḥīm.
Terjemahan makna
Ministry of Religious Affairs (Kemenag)ID

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang."

Makna dan keistimewaan

Bentuk yang digunakan adalah kata kerja «ighfir lanā» (اغْفِرْ لَنَا) dan bentuk larangan «lā taj‘al» (لَا تَجْعَلْ). Doa ini mengajarkan kaum Muslimin yang datang kemudian untuk memohonkan ampunan bagi para Sahabat (Ṣaḥābah) serta memohon agar hati terbebas dari iri dan dengki.

Tafsir dan pelajaran

Tafsir Syekh Abdurrahman as-Sa'di

Cukuplah bagi orang-orang yang datang kemudian sebagai keutamaan jika mereka mengikuti jejak para pendahulu dan meneladani petunjuk mereka. Karena itu, Allah menyebut orang-orang yang datang sesudah mereka, yang mengikuti dan berjalan di belakang mereka. Allah berfirman, «Dan orang-orang yang datang sesudah mereka», yakni sesudah kaum Muhajirin dan Ansar, «mereka berdoa» dengan tulus demi kebaikan diri mereka dan seluruh kaum Mukmin, «Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.»

Doa ini mencakup seluruh kaum Mukmin: para Sahabat yang lebih dahulu beriman, orang-orang sebelum mereka, dan orang-orang sesudah mereka. Ini termasuk keutamaan iman, yaitu kaum Mukmin saling memperoleh manfaat dan saling mendoakan karena sama-sama beriman. Iman mengharuskan terjalinnya persaudaraan di antara kaum Mukmin, dan di antara konsekuensinya ialah mereka saling mendoakan dan saling mencintai.

Karena itu, Allah menyebut dalam doa tersebut permohonan agar kedengkian di hati dihilangkan, baik sedikit maupun banyak. Jika kedengkian tiada, maka yang teguh sebagai gantinya adalah kasih sayang di antara kaum Mukmin, kesetiaan, ketulusan dalam memberi nasihat, dan hal-hal lain yang termasuk hak sesama orang beriman. Allah menyifati orang-orang yang datang setelah para Sahabat dengan iman, sebab ucapan mereka, «yang telah beriman lebih dahulu dari kami», menunjukkan bahwa mereka sama-sama beriman dan mengikuti para Sahabat dalam akidah serta prinsip-prinsip iman.

Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah; sifat sempurna ini hanya benar-benar berlaku bagi mereka.

Allah juga menyifati mereka dengan pengakuan atas dosa-dosa dan permohonan ampun atasnya, serta permohonan ampun satu sama lain. Mereka bersungguh-sungguh menghilangkan kedengkian dan kebencian dari hati terhadap saudara-saudara seiman. Doa mereka itu mengharuskan dan mencakup hal-hal yang telah disebutkan: mereka saling mencintai, menginginkan bagi saudaranya apa yang mereka inginkan bagi diri sendiri, serta menasihatinya ketika hadir maupun tidak hadir, ketika masih hidup maupun telah meninggal. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa semua itu termasuk hak sesama kaum Mukmin.

Kemudian mereka menutup doa dengan dua nama Allah yang mulia, yang menunjukkan kesempurnaan rahmat-Nya, besarnya kasih sayang dan kebaikan-Nya kepada mereka. Di antara bentuk kasih sayang itu—bahkan yang paling utama—adalah Allah memberi mereka taufik untuk menunaikan hak-hak-Nya dan hak-hak hamba-Nya.

Ketiga golongan inilah golongan umat ini yang berhak menerima harta fai, yang penyalurannya ditujukan bagi kemaslahatan Islam. Mereka adalah golongan yang memang pantas menerimanya. Semoga Allah, dengan karunia dan kemurahan-Nya, menjadikan kita termasuk mereka. ‘Alā.

Tafsir Imam Ibnu Katsir

Firman-Nya, «Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau jadikan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”», menjelaskan golongan ketiga yang orang-orang fakir di antara mereka berhak menerima harta fai. Mereka adalah kaum Muhajirin, kemudian kaum Ansar, lalu orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Bara’ah: «Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Ansar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka» (At-Taubah: 100). Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik ialah mereka yang mengikuti jejak-jejak baik dan sifat-sifat terpuji para pendahulu, serta mendoakan mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Karena itu, Allah berfirman dalam ayat yang mulia ini, «Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa», yakni mereka berkata, «Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau jadikan kedengkian dalam hati kami», yakni kebencian dan kedengkian, «terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.»

Betapa baik kesimpulan yang ditarik Imam Malik dari ayat yang mulia ini: seorang Rafidi yang mencela para Sahabat tidak berhak mendapat bagian dari harta fai, sebab ia tidak memiliki sifat yang Allah puji pada mereka dalam ucapan, «Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau jadikan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.»

Ibnu Abi Hatim berkata: Musa bin Abdurrahman al-Masruqi meriwayatkan kepada kami, Muhammad bin Bisyr meriwayatkan kepada kami, Ismail bin Ibrahim bin Muhajir meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, dari Aisyah, bahwa ia berkata, «Mereka diperintahkan untuk memohonkan ampun bagi para Sahabat, tetapi mereka justru mencela mereka!» Kemudian Aisyah membaca ayat ini: «Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami...”» hingga akhir ayat.

Ismail bin Ulayyah meriwayatkan dari Abdul Malik bin Umair, dari Masruq, dari Aisyah, ia berkata, «Kalian diperintahkan untuk memohonkan ampun bagi para Sahabat Muhammad—ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam—tetapi kalian malah mencela mereka. Aku mendengar Nabi kalian—ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Umat ini tidak akan lenyap sampai generasi terakhirnya melaknat generasi pertamanya.”» Riwayat ini disebutkan oleh al-Baghawi.

Abu Dawud berkata: Musaddad meriwayatkan kepada kami, Ismail bin Ibrahim meriwayatkan kepada kami, Ayyub meriwayatkan kepada kami dari az-Zuhri. Az-Zuhri berkata: Umar—raḍiyallāhu ‘anhu—berkata, «Harta yang Allah berikan kepada Rasul-Nya dari mereka itu tidak kamu peroleh dengan mengerahkan kuda atau unta» (Al-Hasyr: 6). Az-Zuhri berkata bahwa Umar berkata, «Harta ini khusus bagi Rasulullah—ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam—yaitu beberapa desa Arab: Fadak dan tempat-tempat lainnya.

Maka harta yang Allah berikan kepada Rasul-Nya dari penduduk negeri-negeri itu adalah untuk Allah, Rasul, kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, dan orang-orang fakir yang terusir dari kampung halaman dan harta benda mereka; juga bagi orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan beriman sebelum kedatangan mereka; serta orang-orang yang datang sesudah mereka. Ayat ini mencakup seluruh manusia, sehingga tak seorang Muslim pun yang tidak mempunyai hak di dalamnya—atau Umar berkata: bagian—kecuali sebagian dari hamba sahaya yang kalian miliki.» Demikian riwayat Abu Dawud, tetapi sanadnya terputus.

Ibnu Jarir berkata: Ibnu Abdul A‘la meriwayatkan kepada kami, Ibnu Tsaur meriwayatkan kepada kami dari Ma‘mar, dari Ayyub, dari Ikrimah bin Khalid, dari Malik bin Aus bin al-Hadatsan, ia berkata: Umar bin al-Khattab membaca, «Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin...» hingga firman-Nya, «Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana» (At-Taubah: 60). Lalu ia berkata, «Ini untuk golongan-golongan tersebut.»

Kemudian ia membaca, «Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlimanya untuk Allah, Rasul, kerabat, anak yatim, orang miskin...» (Al-Anfal: 41), lalu ia berkata, «Ini untuk golongan-golongan tersebut.» Kemudian ia membaca, «Harta yang Allah berikan kepada Rasul-Nya dari penduduk negeri-negeri...» hingga bagian tentang orang-orang fakir, «dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan beriman», serta «orang-orang yang datang sesudah mereka». Lalu ia berkata, «Ayat ini mencakup seluruh kaum Muslim secara umum.

Tidak ada seorang pun yang tidak memiliki hak di dalamnya.» Kemudian ia berkata, «Jika aku hidup, bagian itu akan sampai kepada seorang penggembala di Sarw Himyar, tanpa keringat sedikit pun keluar dari dahinya.» Rujukan ayat-ayat yang disebutkan: At-Taubah: 100; At-Taubah: 60; Al-Anfal: 41.

Tafsir al-Baghawi

Firman Allah Yang Mahamulia, «Dan orang-orang yang datang sesudah mereka», maksudnya adalah para Tabiin, yaitu orang-orang yang datang setelah kaum Muhajirin dan Ansar hingga Hari Kiamat. Kemudian Allah menyebutkan bahwa mereka berdoa memohon ampun bagi diri mereka dan orang-orang yang lebih dahulu beriman. Allah berfirman, «Mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau jadikan kedengkian dalam hati kami...”» yakni kecurangan, kedengkian, dan kebencian, «terhadap orang-orang yang beriman.

Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.»

Siapa pun yang menyimpan kedengkian terhadap salah seorang Sahabat di dalam hatinya dan tidak memohonkan rahmat bagi mereka semua, bukanlah termasuk orang yang dimaksud oleh ayat ini. Sebab, Allah Taala membagi kaum Mukmin menjadi tiga golongan: kaum Muhajirin, kaum Ansar, dan para Tabiin yang memiliki sifat sebagaimana disebutkan Allah. Siapa yang tidak memiliki sifat tersebut tidak termasuk dalam golongan-golongan kaum Mukmin itu.

Ibnu Abi Laila berkata, «Manusia terbagi menjadi tiga golongan: orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin, orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan beriman, serta orang-orang yang datang sesudah mereka. Maka bersungguh-sungguhlah agar jangan sampai kamu berada di luar golongan-golongan ini.»

Abu Said asy-Syuraihi mengabarkan kepada kami, Abu Ishaq ats-Tsa‘labi mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Hamid mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Abdullah bin Sulaiman meriwayatkan kepada kami, Ibnu Numair meriwayatkan kepada kami, ayahku meriwayatkan kepada kami dari Ismail bin Ibrahim, dari Abdul Malik bin Umair, dari Masruq, dari Aisyah—raḍiyallāhu ‘anhā—bahwa ia berkata, «Kalian diperintahkan untuk memohonkan ampun bagi para Sahabat Muhammad—ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam—tetapi kalian malah mencela mereka.

Aku mendengar Nabi kalian—ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Umat ini tidak akan lenyap sampai generasi terakhirnya melaknat generasi pertamanya.”»

Malik bin Maghul berkata: Amir bin Syurahil asy-Sya‘bi berkata, «Wahai Malik, orang-orang Yahudi dan Nasrani lebih unggul daripada kaum Rafidah. Orang-orang Yahudi ditanya, “Siapakah orang terbaik dari golongan kalian?” Mereka menjawab, “Para Sahabat Musa—‘alaihissalām.” Orang-orang Nasrani ditanya, “Siapakah orang terbaik dari golongan kalian?”

Mereka menjawab, “Para pengikut setia Isa—‘alaihissalām.” Namun kaum Rafidah ditanya, “Siapakah orang terburuk dari golongan kalian?” Mereka menjawab, “Para Sahabat Muhammad—ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.” Padahal mereka diperintahkan untuk memohonkan ampun bagi para Sahabat itu, tetapi malah mencela mereka.

Pedang akan terus terhunus terhadap mereka hingga Hari Kiamat: panji mereka tidak akan tegak, langkah mereka tidak akan kokoh, dan persatuan mereka tidak akan terwujud. Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dengan menumpahkan darah mereka, mencerai-beraikan persatuan mereka, dan menggugurkan hujah mereka. Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari hawa nafsu yang menyesatkan.»

Malik bin Anas berkata, «Siapa yang membenci salah seorang Sahabat Rasulullah—ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam—atau menyimpan kedengkian terhadap mereka di dalam hatinya, tidak berhak mendapatkan bagian dari harta fai kaum Muslim.» Kemudian ia membaca, «Harta yang Allah berikan kepada Rasul-Nya dari penduduk negeri-negeri...» hingga sampai pada ayat, «untuk orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin, dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan beriman, serta orang-orang yang datang sesudah mereka», hingga firman-Nya, «Maha Penyantun, Maha Penyayang.» Biṣalatin.

Hadis pendukung

Dalam Ṣaḥīḥ Muslim (no. 2541), diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi melarang mencela para Sahabat beliau.

Label
  • #doa
  • #ampunan
  • #Sahabat
  • #keimanan
  • #kebersihan hati
  • #persaudaraan
  • #kasih sayang

Cari doa

Cari berdasarkan topik, surah, terjemahan, tafsir, atau teks Arab. Anda dapat mencari dalam bahasa Arab—harakat tidak wajib.

↑ ↓ navigate · ↵ open · esc close Hasil →