Doa 49 Kesembuhan dan Kesedihan 6 menit membaca

Syukur atas Kenikmatan Surga

Penghuni surga yang saleh 35:34–35
Teks Arab

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ، إِنَّ. رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ، فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ، وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

Teks Arab mengikuti Al-Qur'an dan dilengkapi harakat. فاطر 35:34–35
Dengarkan doa 0:00 0:00
Suara
Transliterasi Al-ḥamdu lillāhi alladzī adzhaba ‘annā al-ḥazana inna rabbanā laghafūrun syakūrun, alladzī aḥallanā dāra al-muqāmati min faḍlihi lā yamassunā fīhā naṣabun wa lā yamassunā fīhā lughūb.
Terjemahan makna
Ministry of Religious Affairs (Kemenag)ID

Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri, yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.

Makna dan keistimewaan

Bentuknya adalah pujian dan ungkapan syukur dalam doa (ḥamd) dari orang-orang saleh ketika memasuki taman-taman surga.

Tafsir dan pelajaran

Tafsir Syekh Abdurrahman as-Sa'di

(Yang menempatkan kami) yakni, menurunkan kami dengan penempatan yang menetap dan kokoh, bukan penempatan sementara untuk lewat dan mengambil pelajaran. (Tempat tinggal yang kekal) yakni, tempat yang penghuninya menetap selama-lamanya dan tempat yang ingin dihuni karena banyaknya kebaikan, kenikmatan yang terus-menerus, serta sirnanya segala kesusahan. Penempatan itu (karena karunia-Nya) kepada kami dan kemurahan-Nya, bukan karena amal-amal kami. Seandainya bukan karena karunia-Nya, tentu kami tidak akan sampai pada apa yang telah kami capai.

(Di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu) yakni, tidak ada keletihan pada tubuh, hati, maupun daya kekuatan mereka, dan tidak pula karena banyaknya kenikmatan yang mereka rasakan. Ini menunjukkan bahwa Allah Ta‘ala menjadikan tubuh mereka dalam keadaan sempurna dan menyediakan bagi mereka sebab-sebab kenyamanan yang terus-menerus, sehingga keadaan mereka demikian: mereka tidak disentuh keletihan maupun kelesuan, juga tidak ditimpa kesusahan atau kesedihan.

Ini juga menunjukkan bahwa mereka tidak tidur di surga, sebab manfaat tidur ialah menghilangkan keletihan dan mendatangkan istirahat, sedangkan keadaan penghuni surga tidak demikian. Tidur juga merupakan kematian kecil, sementara penghuni surga tidak akan mati. Semoga Allah menjadikan kita termasuk mereka, dengan karunia dan kemurahan-Nya.

Setelah kenikmatan mereka sempurna dan kebahagiaan mereka lengkap, (mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami.”) Ungkapan ini mencakup segala macam kesedihan. Mereka tidak bersedih karena berkurangnya keindahan, makanan, minuman, kenikmatan, atau keadaan tubuh mereka, dan tidak pula karena masa tinggal mereka yang kekal. Mereka berada dalam kenikmatan yang tidak pernah mereka lihat ada tambahan di atasnya, padahal kenikmatan itu terus bertambah selama-lamanya.

(Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun) karena Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami; (Maha Mensyukuri) karena Dia menerima amal-amal baik kami, melipatgandakan pahalanya, dan menganugerahkan kepada kami dari karunia-Nya sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh amal maupun harapan kami. Dengan ampunan-Nya, mereka selamat dari segala hal yang tidak disukai dan ditakuti; dengan syukur serta karunia-Nya, mereka memperoleh segala yang diinginkan dan dicintai.

Tafsir Imam Ibnu Katsir

(Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami) yakni, Dia menyingkirkan rasa takut terhadap hal yang dikhawatirkan dan menyelamatkan kami dari segala yang dahulu kami takutkan dan khawatirkan, berupa berbagai kesusahan dunia maupun akhirat. ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam meriwayatkan dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Pengikut ‘Lā ilāha illallāh’ tidak akan merasa gentar di dalam kubur maupun ketika dibangkitkan.

Seakan-akan aku melihat para pengikut ‘Lā ilāha illallāh’ mengebaskan tanah dari kepala mereka seraya berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami.’” Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim melalui sanadnya.

Ath-Thabrani berkata: Ja‘far bin Muhammad al-Firyabi telah menceritakan kepada kami, Yahya bin Musa al-Marwazi telah menceritakan kepada kami, Sulaiman bin ‘Abdullah bin Wahb al-Kufi telah menceritakan kepada kami, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Hakim, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Pengikut ‘Lā ilāha illallāh’ tidak akan merasa gentar saat kematian, di dalam kubur, maupun ketika dibangkitkan. Seakan-akan aku melihat mereka saat tiupan itu terjadi, mengebaskan tanah dari kepala mereka seraya berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami.

Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.’” Ibnu ‘Abbas dan yang lainnya berkata, “Allah mengampuni banyak keburukan mereka dan mensyukuri sedikit kebaikan mereka.”

(Yang menempatkan kami di tempat tinggal yang kekal karena karunia-Nya) Mereka berkata, “Dialah yang menganugerahkan kepada kami kedudukan dan tempat ini melalui karunia, anugerah, dan rahmat-Nya. Amal-amal kami tidak sebanding dengan itu.” Hal ini ditegaskan dalam hadis sahih bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Amal seseorang di antara kalian tidak akan memasukkannya ke dalam surga.” Mereka bertanya, “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahiku dengan rahmat dan karunia dari-Nya.”

(Di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu) yakni, kami tidak mengalami kesulitan maupun keletihan di dalamnya. Kata naṣab dan lughūb sama-sama digunakan untuk menyebut keletihan. Barangkali maksudnya adalah meniadakan keduanya dari mereka, sehingga tubuh maupun jiwa mereka tidak mengalami keletihan. Allah lebih mengetahui.

Di antaranya, mereka dahulu bersungguh-sungguh mengerahkan diri dalam ibadah di dunia; ketika memasuki surga, kewajiban itu pun dicabut dari mereka dan mereka berada dalam kenyamanan yang terus-menerus. Allah Ta‘ala berfirman, “Makan dan minumlah dengan nikmat karena apa yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (Al-Ḥāqqah: 24).

Tafsir al-Baghawi

(Dan mereka berkata) yakni, mereka berkata ketika masuk surga, (Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami.) Kata al-ḥazan dan al-ḥuzn memiliki makna yang sama, seperti al-bukhl dan al-bakhl. Ibnu ‘Abbas berkata, “Maksudnya adalah kesedihan karena neraka.” Qatadah berkata, “Kesedihan karena kematian.”

Muqatil berkata, “Mereka bersedih karena tidak mengetahui apa yang akan Allah tetapkan bagi mereka.” ‘Ikrimah berkata, “Kesedihan karena dosa dan keburukan, serta takut amal ketaatan mereka ditolak.” Al-Qasim berkata, “Kesedihan karena hilangnya kenikmatan, hati yang berubah-ubah, dan takut akan kesudahan.” Ada pula yang berkata, “Kesedihan karena kedahsyatan Hari Kiamat.”

Al-Kalbi berkata, “Apa saja yang membuat mereka bersedih di dunia mengenai perkara Hari Kiamat.” Sa‘id bin Jubair berkata, “Kesusahan karena makanan di dunia.” Ada pula yang berkata, “Kesusahan dalam mencari penghidupan.” Az-Zajjaj berkata, “Allah menghilangkan dari penghuni surga segala kesedihan, baik yang berkaitan dengan kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.”

Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad adh-Dhaḥḥāk al-Khaṭīb mengabarkan kepada kami: Abu Isḥāq Ibrāhīm bin Muhammad al-Isfarāyīnī mengabarkan kepada kami: Abu Bakr Aḥmad bin Ibrāhīm al-Ismā‘īlī mengabarkan kepada kami: Abu al-‘Abbās Aḥmad bin Muhammad at-Turābī menceritakan kepada kami: Yaḥyā bin ‘Abdul Ḥamīd menceritakan kepada kami: ‘Abdurraḥmān bin Zaid bin Aslam meriwayatkan dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Pengikut ‘Lā ilāha illallāh’ tidak akan merasa gentar di dalam kubur maupun ketika dibangkitkan.

Seakan-akan aku melihat para pengikut ‘Lā ilāha illallāh’ mengebaskan tanah dari kepala mereka seraya berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami.’”

Firman-Nya, (Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.)

(Yang menempatkan kami) yakni, menurunkan kami. (Di tempat tinggal yang kekal) yakni, tempat menetap. (Karena karunia-Nya. Di dalamnya kami tidak merasa lelah) yakni, kami tidak ditimpa kesulitan dan kepayahan di dalamnya. (Dan tidak pula merasa lesu) yakni, keletihan yang timbul karena rasa lelah.

Hadis pendukung

Dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (no. 6549) diriwayatkan: “Seorang penyeru di surga akan berseru, ‘Sungguh, kalian akan selalu sehat dan tidak akan pernah sakit; kalian akan hidup dan tidak akan pernah mati!’”

Label
  • #surga
  • #pujian kepada Allah
  • #rasa syukur
  • #ampunan
  • #kenikmatan abadi
  • #ketenteraman

Cari doa

Cari berdasarkan topik, surah, terjemahan, tafsir, atau teks Arab. Anda dapat mencari dalam bahasa Arab—harakat tidak wajib.

↑ ↓ navigate · ↵ open · esc close Hasil →